Home » kedokteran gigi » tingkat keberhasilan foto radiografi panoramik di tinjau dari segi processingnya di laboratorium klinik kanaka manado

tingkat keberhasilan foto radiografi panoramik di tinjau dari segi processingnya di laboratorium klinik kanaka manado

my sacrifice

tentang aku

kalender

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

The Big DayMarch 15th, 2013
The big day is here.

kalender

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Radiografi adalah produksi gambaran radiografis (radiographic image) dari suatu obyek dengan memanfaatkan sinar-X (X-ray). Sinar x ditemukan oleh Wilhem C Roentgen, seorang professor fisika dari jerman saat melihat timbulnya fluoresensi yang berasal dari kristal barium platinosianida yang mendapat hadiah nobel pada tahun 1901. Akhir desember 1895 dan awal januari 1896 Dr. Otto Walkhoff (dokter gigi) dari jerman adalah orang pertama yang menggunakan sinar x pada foto gigi (premolar bawah).1

Penggunaan sinar Rontgen telah lama dikenal sebagai suatu alat dalam bidang kedokteran yang sangat membantu dalam menegakkan diagnosa dan untuk menentukan rencana perawatan. Radiografi  memberikan informasi diagnosis yang penting dan dapat digunakan saat menentukan rencana perawatan.2 Dalam bidang kedokteran gigi, radiografi digunakan untuk menyediakan informasi tentang struktur oral tidak kasat mata.3 Pemeriksaan radiografi dalam kedokteran gigi dikenal lebih dari satu abad sebagai sarana untuk memperoleh informasi diagnostik yang tidak dapat diperoleh dari pemeriksaan klinis. Pemeriksaan radiografis merupakan salah satu tahapan penting dalam perawatan adanya kelainan dalam praktek dokter gigi.4,5

Radiografi gigi dapat membantu dokter gigi untuk memeriksa struktur pendukung gigi yang di foto rontgen. Radiografi dalam kedokteran gigi ada 2 macam yaitu, foto intraoral dan ekstraoral.2 Panoramik merupakan salah satu foto Rontgen gigi ekstraoral yang biasa dipakai dalam praktek kedokteran gigi. Foto panoramik merupakan foto Rontgen ekstra oral yang menghasilkan gambaran yang memperlihatkan struktur facial termasuk mandibula dan maksila beserta struktur pendukungnya. Foto Rontgen ini dapat digunakan untuk mengevaluasi gigi impaksi, pola erupsi, pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi, mendeteksi penyakit dan mengevaluasi trauma.2

Radiografi merupakan ilmu pengetahuan sekaligus seni. Pemanfaatan dari radiografi memerlukan pengetahuan tentang fisika radiasi dan kimia fotografi serta keterampilan tingkat tinggi.3 Foto radiografi panoramik yang baik tentunya bisa membantu tenaga medis gigi untuk menegakkan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat. Dimana untuk menghasilkan gambaran panoramik yang baik perlu disertai dengan proses dan pengetahuan tentang tata cara agar menghasilkan foto radiografi yang mudah di interpretasi sehingga bisa dipertanggungjawabkan

Citra radiografi merupakan hal penting dalam menunjang praktek seorang dokter gigi. Sebagai tenaga medis, dokter dalam membantu diagnosanya hendaknya menyajikan gambar radiografi atau foto rontgen yang berkualitas terutama saat pelayanan di tempat praktek, rumah sakit, atau laboratorium klinik yang sudah banyak tersebar di masyarakat6

Proses pembuatan foto panoramik dikatakan berhasil manakala hasil foto radiografisnya bisa menggambarkan obyek lebih detail sehingga mudah dibaca. Sebetulnya, yang boleh memegang dan menggunakan alat radiografi adalah ahli fisika medik. Kesalahan proses pembuatan foto radiografi dapat menghasilkan pencitraan yang kurang berkualitas. Hal ini dapat mempersulit dokter gigi dalam menegakkan diagnosis dan rencana perawatan yang akan dilakukan. Berdasarkan uraian diatas maka penulis merasa tertarik untuk menulis skripsi tentang tingkat keberhasilan foto panoramik ditinjau dari segi prosesnya di laboratorium klinik Kanaka Manado.

  1. PERUMUSAN MASALAH

Masalah utama pada penelitian ini adalah bagaimanakah keberhasilan foto radiografi panoramik ditinjau dari segi prosesnya

  1. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembuatan foto radiografi panoramik di laboratorium klinik kanaka

Sedangkan tujuan khusus dri penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui standar proses pembuatan foto radiografi panoramik yang baik
  2. Mahasiswa dapat mengamalkan cara-cara untuk mendapatkan hasil gambaran radiografi panoramik yang baik pada saat nantinya mahasiswa terjun di dunia kerja
  1. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian diharapkan memiliki manfaat.

  1. Bagi peneliti

Memperkaya pengetahuan peneliti tentang proses pembuatan foto radiogarfi panoramik yang baik

  1. Bagi masyarakat

Manambah wawasan masyarakat dalam mempertimbangkan klinik radiologi  yang memiliki standar proses pembuatan foto panoramik yang baik

  1. Bagi insitusi

Sebagai masukan untuk dokter yang bersangkutan khususnya dibagian radiologi mengenai proses pembuatan foto radiografi panoramik yang baik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. A.    Sejarah Radiologi

Sinar x ditemukan oleh Wilhem Conrad Roentgen seorang ahli di Universitas Wurzburg, Jerman, pertama kali menemukan sinar Roentgen pada tahun 1895 sewaktu melakukan eksperimen dengan sinar katoda. Saat itu ia melihat timbulnya sinar fluoresensi yang berasal dari kristal barium platinosianida dalam tabung Crookes-Hittors yang dialiri listrik. Ia segera menyadari bahwa fenomena ini merupakan suatu penemuan baru sehingga dengan gigih ia terus menerus melanjutkan penyelidikannya dalm minggu-minggu berikutnya. Ia menggunakan tabung Geslier yaitu tabung yang terbuat dari Glass Envelope yang didalamnya terdapat gas Argon atau Xenon yang jika ada perbedaan potensial diantara anode dan katode maka gas-gas ini akan terionisasi dan elektron-elektron akan membebaskan diri dari ikatan atomnya. Elektron yang terdekat dengan anode akan langsung ditarik ke anode sehingga terjadi hole. Hole ini akan diisi oleh elektron berikutnya, begitu seterusnya sehingga akan terjadi estafe elektron yang berkebalikan dengan arus listrik yang kemudian disebut arus tabung, Pada tahun 1901 mendapat hadiah nobel atas penemuan tersebut.7

Namun pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1913 Collige menyampurnakan penemuan Rontgen dengan memodifikasi tabung yang digunakan. Tabung yang digunakan adalah tabung vakum yang didalamnya hanya terdapat 2 elktroda yaitu anode dan katode. Tabung jenis ini kemudian disebut Hot Chatode Tube dan merupakan tabumg yang dipergunakan untuk pesawat Rontgen konvesional yang sekarang.16

Setahun setelah Rontgen menemukan sinar-X, maka Henri Becquerel, di Perancis, pada tahun 1896 menemukan unsur uranium yang mempunyai sifat yang hampir sama. Penemuannya diumumkan dalam kongres Akademi Ilmu Pengetahuan Paris pada tahun itu juga.16

Orang Indonesia yang telah menggunakan sinar Roentgen pada awal abad ini ialah R.M. Notokworo yang lulus dokter di Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 1912. Beliau mula-mula bekerja di semarang, lalu pada permulaan masa pendudukan jepang dipindahkan ke surabaya. Pada tahun 1944 ia meninggal secara misterius, dibunuh oleh tentara Jepang.13                                                                                                                                                          

  1. B.     Pengertian Radiologi dan Radiografi

Radiologi adalah cabang ilmu kesehatan mengenai zat radioaktif dan energi pancarannya yang berhubungan dengan diagnosis dan pengobatan penyakit, baik dengan cara radiasi ionisasi (seperti sinar-X) maupun nonionisasi (seperti ultrasonografi). Menurut Kamus Kedokteran Gigi Harty, Radiologi merupakan ilmu mengenai diagnosis dan perawatan suatu penyakit dengan menggunakan sinar-X termasuk di dalamnya ilmu mengenai film radiografi dan pemeriksaan visual atas struktur tubuh pada layar fluorosensi, atau mempertunjukan struktur tubuh tertentu melalui pemasukan bahan kimia yang radio-opaque sebelum pemeriksaan radiologis dilakukan8,9  

Sedangkan radiografi adalah penggunaan sinar pengion (sinar-X, sinar gamma) untuk membentuk bayangan benda yang dikaji pada film. Radiografi umumnya digunakan untuk melihat benda tak tembus pandang, misalnya dalam tubuh manusia. Gambaran benda yang diambil dengan radiografi disebut radiogaf. Radiografi lazim digunakan pada berbagai bidang terutama pengobatan dan industri. 14

Pelayanan radiologi sebagai bagian yang terintergrasi dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh merupakan bagian dari amanat Undang- Undang Dasar 1945 dimana kesehatan adalah hak fundamental setiap rakyat dan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Bertolak dari hal tersebut serta makin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, maka pelayanan radiologi sudah selayaknya memberikan pelayanan yang berkualitas. Penyelenggaraan pelayanan radiologi umumnya dan radiologi diagnostik khususnya telah dilaksanakan di berbagai sarana pelayanan kesehatan, mulai dari sarana pelayanan kesehatan sederhana, seperti puskesmas dan klinik-klinik swasta, maupun sarana pelayanan kesehatan yang berskala besar seperti rumah sakit kelas A. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi dewasa ini telah memungkinkan berbagai penyakit dapat dideteksi dengan menggunakan fasilitas radiologi diagnostik yaitu pelayanan yang menggunakan radiasi pengion dan non pengion. Dengan berkembangnya waktu, radiologi diagnostik juga telah mengalami kemajuan yang cukup pesat, baik dari peralatan maupun metodanya.10

  1. Radiografi Panoramik

Teknik radiografi yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi ada 2 yaitu teknik intraoral dan ekstraoral. Pada teknik intraoral, film Rontgen diletakkan didalam mulut pasien, salah satunya adalah foto periapikal dan bite wing serta oklusal, sedangkan pada teknik foto Rontgen ekstraoral, film Rontgen diletakkan diluar mulut pasien, salah satunya adalah foto panoramik, macam lainnya adalah lateral foto, cephalometri dan lain-lain.11

Panoramik merupakan salah satu foto rontgen ekstraoral yang telah digunakan secara umum di kedokteran gigi untuk mendapatkan gambaran utuh dari keseluruhan maksilo fasial. Gambaran panoramik adalah sebuah teknik untuk menghasilkan sebuah gambaran tomografi yang memperlihatkan struktur fasial mencakup rahang maksila dan mandibula beserta struktur pendukungnya dengan distorsi dan overlap minimal dari detail anatomi pada sisi kontra lateral. Foto Rontgen ini dapat digunakan untuk mengevaluasi gigi impaksi, pola erupsi, pertumbuhan dan perkembangan gigi-geligi, mendeteksi penyakit dan mengevaluasi trauma.11

  1. Prosessing radiografi

Pada waktu sinar X melalui suatu objek dan jatuh pada film, maka sinar X akan mengionkan emulsi Ag Br pada film tergantung dari sinar X yang jatuh pada film tersebut.

Bila sinar X mengenai struktur jaringan keras :

Sebagai contoh gigi, tambalan amalgam, tulang, yang karena kepadatannya akan mengabsorsi sinar X yang banyak dan sedikit sekali sinar X yang keluar dan jatuh pada film, akibat sedikitnya sinar X yang jatuh pada film maka emulsi Ag Br pada film hanya sedikit yang mengalami proses ionisasi menjadi Ag+ + Br+ . Kemudian diproses dalam kamar gelap, developer akan melepaskan ion Br_ yang jumlahnya sedikit,maka tampak gambaran laten pada foto rontgennya berwarna putih atau radiopaque.

Bila sinar X mengenai struktur jaringan lunak :

Sebagai contoh gingiva, mukosa pipi, dan bibir yang kepadatannya kurang, maka sedikit sekali sinar X yang diabsorsi atau banyak sinar X yang jatuh pada film, sehingga sebagian besar Ag Br pada film akan mengalami ionisasi menjadi Ag+ + Br_ . Kemudian diproses dalam kamar gelap , developer akan melepaskan Br_ dalam jumlah yang banyak, maka akan tampak gambar laten pada foto rontgennya berwarna hitam atau radiolusen.

Terdapat 2 jenis prosessing dalam radiografi panoramik

  1. 1.                  automatic prosessing

Dalam processing automatic hampir sama dengan processing manual hanya perbedaannya pada prosesnya tidak mengalami proses rinsing ( pembilasan ), menggunakan tenaga mesin

  1. Daylight processing

Ada beberapa macam mesin pencuci film rontgen dipasaran. Beberapa diantaranya harus dilakukan dengan tangan, tapi dilengkapi dengan tempat terbuka untuk memasukan film, mirip sarung tangan, yang tidak tembus cahaya, sehingga tangan kita bisa dimasukan, juga ada filter tahan cahaya. Tangan dimasukan kedalam developer, ke pembilas kemudian ke fixer. Cara bekerjanya sama seperti cara kerja dikamar gelap konvesional. Alat ini menggantikan kamar gelap, bila fasilitas kamar gelap tidak tersedia. Menggunakan mesin pencuci ini, bila hanya sedikit foto rontgen yang dicuci.

  1. True automatic processing

Alat ini juga memiliki bagian yang terbuka seperti sarung tangan untuk membuka film dan menempatkannya dalam roller system, untuk selanjutnya menjalani proses pencucian yang lengkap secara otomatis.

Idealnya dilakukan didalam kamar gelap. Disana film dengan ukuran yang berbed-beda, dengan mudah dapat dikeluarkan dari pembungkusnya dan langsung ditempatkan pada roller.

  1. 2.                  manual prosessing

Dengan menggunakan tenaga manusia yang melalui beberapa proses yaitu : Developer ( pembangkitan ), Rinsing ( pembilasan ), Fixing ( penetapan),  Washing ( pencucian ),  dan Drying ( pengeringan ).

  1. Meja basah, untuk bak pencuci film yang terdiri dari :

Developer, dilengkapi dengan termometer untuk mengukur suhu developer. Cairan developer yang temperaturnya lebih besar dari 24oC, akan mempengaruhi emulsi AgBr menjadi lumer, dan gambaran pada foto berupa noda-noda sehingga akan mempengruhi interpretasi foto tersebut dengan baik.

Pada bak developer terdiri dari larutan

  1. Hydroquinone, ini adalah suatu bahan pereduksi yang menghasilkan kontras tinggi.
  2. Mentol, ini adalah suatu bahan pereduksi yang menghasilkan detail dari foto rontgen
  3. Sodium karbonat (NaCO3), bahan ini dipergunakan untuk mengaktifkan larutan developer dalam mempercepat reaksi perubahan kimia emulsi garam AgBr yang terkena sinar X
  4. Sodium sulfat (NaSO3), bahan ini dipergunakan untuk menghalangi kerusakan larutan developer yang mengalami oksidasi dengan udara. Jadi bahan ini bertindak sebagai suatu perlindungan dan menjaga keaktifan developer
  5. Potasium bromida (KBr), bahan ini dipergunakan untuk mencegah reduksi kristal-kristal yang tidak disinari oleh sinar X, berarti bahan ini mencegah terjadinya kabut
  6. Air dipergunakan sebagai pelarut

Rinsing untuk menghilangkan semua larutan developer yang ikut mempengaruhi keasaman larutan fixer. Oleh sebab itu pencucian dalam air harus bersih betul, kemudian dimasukan ke dalam larutan fixer.

Fixing : untuk melarutkan semua emulsi AgBr yang tidak mengalami ionisasi oleh sinar X pada waktu penyinaran atau tidak dilarutkan oleh developer.

Pada bak fixing terdiri dari larutan

  1. Natrium tiosulfat, larutan ini merupakan bahan fixasi dan bahan pelarut AgBr
  2. Natrium sulfat, larutan ini dipergunkan untuk mencegah dekomposisi bahan fixasi dalam asam acetat. Jadi larutan ini bertindak sebagai pengawet
  3. Asam asetat, larutan ini dipergunakan untuk menetralisir larutan developer yang terbawa serta oleh film agar fixer bersifat asam.
  4. Potasium alumunium, larutan ini merupakan bahan pengeras yang mengeraskan gelatin dalam emulsi film
  5. Air, digunakan sebagai bahan pelarut

Washing : film harus direndam dalam bak air selama 10 menit, kemudian di cuci dengan air kran, untuk membersihkan semua sisa-sisa zat  kimia pada film. Mencuci dalam bak air saja tanpa dibilas pada air kran, akan menimbulkan noda-noda pada foto rontgennya.

Drying : mengeringkan film pada temperatur yang terlalu tinggi akan menyebabkan film akan hangus atau foto yang dihasilkan akan timbul noda-noda kuning. Sebaiknya mengeringkan film pada suhu ruangan.

  1. Meja kering, untuk tempat mengisi dan mengeluarkan film dari kaset yang sudah dan akan digunakan.

Pengetahuan akan pekerjaan dan pemahaman teori pemrosesan perlu sehingga kesalahan dapat diidentifikasi dan diperbaiki7,12

 

  1. Syarat radiografi yang baik

Citra radiografi merupakan hal penting dalam menunjang praktek Kedokteran radiografi sehari-hari. Setiap radiologist (dokter spesialist radiologi) pasti menginginkan gambar radiografi atau foto rontgen dengan kualitas yang semaksimal mungkin dalam rangka menegakkan diagnosis, membuat rencana perawatan, dan menilai keberhasilan perawatan yang telah dilakukan terhadap pasiennya.

Sebagai tenaga paramedis, seorang radiografer hendaknya dapat menyajikan gambar radiografi (foto rontgen)  yang berkualitas, terutama saat pelayanan di rumah sakit – rumah sakit, atau laboratorium klinik swasta yang sudah banyak tersebar di masyarakat.

Radiografer sebagai seorang mitra kerja seorang radiologist (dokter spesialist radiologi) harus dapat memberikan hasil kerja yang maksimal kepada mitranya tersebut. Untuk menjaga kualitas kerja, radiografer sebagai mitra kerja seorang radiologist (dokter spesialis radiologi) harus dapat memberikan gambar radiografi (foto rontgen) yang berkualitas, baik detail mutu maupun karakteristik gambar radiografi (meliputi detail dari pada citra radiografi tersebut). Apabila citra radiografi yang dihasilkan terlalu rendah, dapat menyebabkan tingkat diagnostik yang rendah pula, dan apabila kualitas diagnosa yang dihasilkan rendah, pasti akan menimbulkan kesulitan dalam menentukan tahap perawatan berikutnya terkait kasus yang dialami pasien.6

Gambaran Foto roentgen yang dianggap baik

  1. Struktur anatomis dari regio gigi yang difoto harus jelas, yaitu perbedaan dari gambaran enamel, dentin, kamar pulpa dan jaringan periapikalnya harus betul-betul tajam dan terlihat jelas.
  2. Gambaran dari puncak-puncak tonjol gigi atau cusp gigi-gigi yang difoto (cusp bukal dan lingual / palatal) sedapat mungkin bersatu, dimana permukaan oklusal dari gigi tersebut tidak terlihat sama seekali.
  3. Daerah interdental dibawah titik kontak dua gigi yang bertetangga pada foto, tidak boleh tumpang tindih / overlapping satu dengan yang lain, sehingga tidak terlihat.Alhamid A. Dental radiologi FKG UI tingkat III

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. Rancangan penelitian

Penelitian ini dibuat sebagai suatu penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan memberikan gambaran tentang suatu gejala tertentu17

  1. Tempat dan waktu penelitian
  1. 1.      Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium bagian radiologi Kanaka Manado Sulawesi Utara.

  1. 2.      Waktu

Penelitian ini dilakukan mulai dari studi pendahuluan sampai selesai pada bulan juli sampai september 2011.

  1. Populasi dan sampel
  1. 1.      Populasi

Populasi adalah kumpulan sumber data yang mempunyai sifat yang sama.17 Populasi penelitian ini adalah seluruh hasil foto panoramik dari pasien yang dirujuk ke bagian radiologi laboratorium klinik Kanaka Manado setiap harinya pada bulan bulan juli sampai september tahun 2011

  1. 2.      Sampel penelitian

Adapun besar sampel penelitian ini adalah seluruh populasi yaitu seluruh hasil foto panoramik dari pasien yang dirujuk ke bagian radiologi laboratorium klinik Kanaka Manado setiap harinya pada bulan bulan juli sampai september tahun 2011.

  1. Kriteria inklusi dan ekslusi

Pengambilan sampel dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi sebagai pertimbangan.

  1. Kriteria inklusi
    1. Hasil foto panoramik pasien yang dirujuk dibagian radiologi laboratorium klinik Kanaka Manado pada bulan juli sampai september tahun 2011
    2. Kriteria ekslusi
      1. Hasil foto rontgen yang bukan foto panoramik pasien yang dirujuk dibagian radiologi laboratorium klinik Kanaka.
      2. E.     Instrumen penelitian alat dan bahan
        1. Instrumen penelitian

Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian tingkat keberhasilan foto radiografi panoramik ditinjau dari segi processing di laboratorium klinik kanaka Manado adalah hasil  dari foto radiografi panoramik yang ada dilengkapi dengan pengamatan yang dilakukan

  1. Alat dan bahan
    1. Alat tulis-menulis
    2. Kalkulator
    3. Program SPSS di komputer
    4. F.     Pengumpulan data

Data yang dikumpulkan adalah data hasil foto panoramik pasien yang datang di bagian radiologi klaboratorium klinik kanaka Manado. Cara mendapatkannya yaitu dengan :

  1. Mencatat dan mengamati proses pembuatan foto radiografi panoramik pasien yang dirujuk dilaboratorium klinik kanaka Manado pada bulan juli sampai september 2011 khususnya pada tahap processing foto
  2. G.    Deskripsi dan analisis data

Deskripsi dan analisa data dilakukan secara deskriptif. Penyajiannya hanya menggunakan distribusi frekuensi dengan presentasi (proporsi). Jadi data diolah kemudian dijadikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis berdasarkan presentase. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan foto radiografi panoramik ditinjau dari segi processing di laboratorium klinik Kanaka Manado

 


2 Comments

  1. ratna says:

    bab selanjutnya ndak ada?

  2. mateas hendrajati says:

    bisa di rekomendasikan untuk alamat kliniknya?
    mohon bantuannya
    087775922234

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Five.

Five true stories, every five weeks.

Sharing Kasus Perawatan Konservasi Gigi

Conservative Dentistry Case Reports Presentation

%d bloggers like this: