my sacrifice

tentang aku

asrul mahsiddin

kalender

May 2013
M T W T F S S
« Apr   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

The Big DayMarch 15th, 2013
The big day is here.

kalender

May 2013
M T W T F S S
« Apr   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

Mempertahankan tubuh tetap dalam keadaan sehat adalah sasaran yang harus dicapai oleh setiap praktisi medis, demikian halnya juga dengan dokter gigi. Dalam melaksanakan pelayanan medis, dokter gigi harus mencegah atau menahan proses penyakit serta mengembalikan bagian gigi yang hilang. Seringkali kedua sasaran tersebut dicapai dengan pembuatan suatu tumpatan sederhana (restorasi).

Gigi adalah organ yang vital, karena itu harus dirawat dengan penuh pertimbangan bila memerlukan prosedur-prosedur operatif. Kebanyakan pasien yang datang untuk mendapat perawatan gigi sangat mementingkan nilai estetik dari gigi-geliginya, terutama pada gigi-gigi anterior sulung maupun tetap. Hal tersebut penting sebagai pertimbangan dalam pemilihan bahan tumpatan yang digunakan. Bahan restorasi harus semirip mungkin dengan substansi gigi asli yang digantikan. Hal ini dikarenakan gigi-gigi ini akan terlihat selama pergerakan fungsional yang normal.

Gigi desidu, sulung atau seperti yang sering disebut sehari-hari gigi susu, mempunyai masa hidup yang relatif singkat. Sebelumnya akhirnya gigi tersebut tanggal (lepas) untuk diganti dengan gigi-geligi tetap. Biasanya ia terjadi antara umur 6 sampai 13 tahun. Oleh sebab itu, karies pada gigi sulung harus dirawat guna mencegah hilangnya gigi tersebut sebelum waktunya

Nilai estetik pada restorasi gigi-gigi anterior dapat dicapai dengan menggunakan bahan tumpatan seperti GIC atau semen ionomer kaca,. Penggunaan bahan restorasi GIC memang memberi warna mirip gigi sehingga baik digunakan pada gigi anterior. Pada tulisan ini akan menjelaskan mengenai tumpatan gigi anterior sulung dengan menggunakan bahan GIC (semen ionomer kaca).

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

  1. A.    Gigi sulung

Gigi desidu, sulung atau seperti yang sering disebut sehari-hari gigi susu, mempunyai masa hiup yang relatif singkat dan akhirnya ia tanggal (lepas) untuk diganti dengan gigi-geligi tetap. Biasanya ia terjadi antara umur 6 sampai 13 tahun. Gigi insisivus dan kaninus susu mempunyai gigi penganti tetap, tetapi gigi molar pertama dan kedua susu digantikan masing-masing oleh gigi premolar pertama dan kedua

Gigi susu lebih sedikit dari pada gigi-geligi tetap dengan jumlah keseluruhan gigi-geligi atas 10 dan gigi-geligi bawah 10. Gigi-geligi susu mempunyai beberapa perbedaan penting dalam morfologi, komposisi, ukuran, warna, dan sebagainya. Perbedaan tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Secara keseluruhan gigi-geligi susu lebih kecil dari pada gigi-geligi tetap
  2. Enamel (email) gigi-geligi susu lebih putih dan lebih guram, yang menyebabkan mahkota gigi susu berwarna lebih muda dari pada gigi-geligi tetap.
  3. Enamel gigi susu lebih permeabel dan lebih mudah terabrasi. Derajat permeabilitas berkurang setelah akar mulai di resorbsi
  4. Kedalaman enamel lebih konsisten dan lebih tipis dari pada gigi tetap
  5. Mahkota gigi-geligi depan susu membulat, dengan cingulum labial yang menonjol
  6. Akar gigi susu lebih pendek, kurang kuat dan lebih muda warnanya dari pada akar gigi tetap
  7. Ruang pulpa gigi susu lebih besar dari pada gigi tetap, dengan tanduk pulpa yang menonjol dan lebih mengikuti morfologi luar gigi
  8. Saluran akar gigi susu lebih halus
  9. Gigi-geligi susu terdiri dari 20 gigi, sedangkan gigi-geligi tetap terdiri dari 32 gigi.

Gambar 1. Perbedaan morfologi gigi sulung dan tetap

  1. B.     GIC

Glass Ionomer Cement (GIC) merupakan salah satu jenis bahan yang biasanya digunakan dalam kedokteran gigi sebagai bahan tumpatan dan semen perekat. Bahan ini berdasarkan pada reaksi bubuk kaca silikat dan asam polialkenoat yang merupakan tambahan dari golongan dental semen berbasis air dan terdiri dari silicate cement, zinc phospate cement dan zinc polycarboxylate cement. Glass ionomer konvensional terdiri dari fluoroaluminosilicate glass, biasanya dalam garam stronsium atau kalsium dan cairan asam polialkenoat, sebagai contoh poliakrilik, maleat, itakonik dan asam trikarbalilik. Bahan konvensional dibuat dengan reaksi unsur asam antara cairan asam dan bubuk dasar.

Beberapa kasus karies yang menggunakan bahan tumpatan glass ionomer cement yaitu: karies yang menyerang permukaan serviks gigi yang disebabkan oleh abrasi (yang menurut klasifikasi G.V. Black termasuk lesi kelas V), karies yang terdapat pada akar, karies yang menyerang permukaan aproksimal gigi-gigi anterior (yang menurut klasifikasi G.V. Black termasuk lesi kelas III) dan penutupan pit atau fisur (fissure sealant ).

Adapun keunggulan dari bahan restorasi GIC (glass ionomer cement) antara lain:

  1. Mempunyai kekuatan kompresi yang tinggi.
  2. Bersifat adhesi.
  3. Tidak iritatif.
  4. Mengandung fluor sehingga mampu melepaskan bahan fluor untuk mencegah karies lebih lanjut.
  5. Mempunyai sifat penyebaran panas yang sedikit.
  6. Daya larut yang rendah.
  7. Bersifat translusent atau tembus cahaya.
  8. Perlekatan bahan ini secara fisika dan kimiawi terhadap jaringan dentin dan email.

 

Disamping itu, glass ionomer cement juga bersifat biokompatibilitas, yaitu menunjukkan efek biologis yang baik terhadap struktur jaringan gigi dan pulpa. Kelebihan lain dari bahan ini yaitu glass ionomer cement mempunyai sifat anti bakteri.

 

EVALUASI KLINIS GLASS IONOMER CEMENT

Glass ionomer cement (GIC) telah menjadi subjek dari berbagai penelitian dalam kaitannya dengan pelaksanaan klinisnya.

  1. Adhesi

Glass ionomer cement merupakan bahan restorasi yang ideal untuk lesi servikal non-karies karena sifat adesifnya dan beban restorasi akhirnya yang tidak berarti. Oleh karena itu terdapat sejumlah penelitian pada sifat glass-ionomer pada lesi-lesi tertentu. Kebanyakan lesi servikal non karies bukan merupakan undercut yang terpisah dan retensi dari restorasi tergantung pada adhesi yang efektif antara bahan dan dentin.

Karena banyak resin modified glass-ionomer cements yang diperkenalkan saat ini, hanya penelitian yang dilakukan dalam waktu yang singkat yang berlaku. Pada umumnya, rata-rata retensi sama tinggi dengan glass-ionomer konvensional. Tetapi beberapa bahan telah menunjukkan masalah dengan mempertimbangkan stabilitas warna. Akan tetapi resin modified glass-ionomer telah berkembang dengan kestabilan sifatnya sejak beberapa tahun yang lalu.

Resin modified glass-ionomer cement dapat juga digunakan sebagai lapisan adesif untuk retensi resin komposit dengan cara yang sama dengan penggunaan dentine bonding agent.

  1. Penghambatan Karies

GIC melepaskan fluoride yang awalnya pada tingkat yang tinggi, kemudian menurun setelah beberapa hari menjadi tingkatan rendah yang cocok selama bertahun-tahun. Percobaan pelepasan fluoride seluruhnya menyatakan bahwa glass-ionomer memiliki insiden terjadinya sekunder karies yang rendah. Tetapi hanya sedikit penelitian klinis yang memenuhi kebutuhan suatu percobaan dengan rancangan yang tepat untuk memutus aktivitas antikariogenik dari glass-ionomer. Percobaan-percobaan yang dipublikasikan tersebut meragukan, sebagian menyatakan keuntungan glass-ionomer cement pada pencegahan karies sekunder dan yang lain menyatakan tidak ada keuntungan.

  1. Efek pada Karies Dentin

Karies dentin dapat dibagi ke dalam dua zona; zona yang paling dekat dengan pulpa yang disebut sebagai ’inner carious’ atau ’affected dentine’ dan zona yang paling dekat dengan rongga mulut disebut ’outer carious’ atau ’infected dentine’. Zona-zona ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dentin yang terpengaruh memiliki sedikit atau bahkan tidak ada bakteri, warna coklat-hitam dan mengandung kolagen. Oleh karena itu dentin yang demikian dapat diremineralisasi karena berisi kolagen utuh yang berperan sebagai pendukung bagi endapan hidroksiapatit.

Dalam perbedaannya dentin yang terinfeksi memiliki muatan bakteri yang lebih berat, kolagen yang terdegradasi, memiliki penampilan batas kuning-coklat, basah dan tidak dapat teremineralisasi. Untuk mengikuti prinsip intervensi minimum preparasi kavitas, dentin yang terpengaruh dapat ditinggalkan pada tempatnya dengan potensial untuk remineralisasi di bawah pengaruh glass ionomer cement. Beberapa publikasi telah melakukan investigasi kemampuan GIC untuk meningkatkan remineralisasi dentin yang terpengaruh.

  1.  Fissure Sealant

Pada awalnya salah satu yang direkomendasikan untuk penggunaan glass-ionomer cement adalah sebagai bahan fissure sealant. Fisur membutuhkan paling sedikit perluasan 100 μm untuk mencapai penetrasi semen dan melindunginya dari beban oklusal. Pada keadaan dimana fisur berdiameter lebih kecil dari 100 μm direkomendasikan untuk membuka fisur agar diperoleh penetrasi sealant. Beberapa studi klinis telah mengidentifikasi masalah retensi fissure sealant glass-ionomer. Cara tradisional untuk mendapatkan penampilan fissure sealant pada percobaan klinis adalah dengan bahan retensi. Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa fissure sealant glass ionomer akan hilang dari fisur dalam beberapa bulan setelah aplikasi, akan tetapi pada penggunaan teknik impression ditemukan bahwa glass-ionomer cement akan ditahan pada kedalaman fisur. Hal ini menjelaskan penemuan efek glass-  ionomer cement yang umumnya sama dimana sealant yang berbasis resin mencegah karies fisur sehingga resin sealant lebih tahan dalam beberapa tahun.

  1. Gigi desidui

Glass-ionomer cement telah mendapatkan penelitian intensif sebagai bahan restorasi untuk gigi desidui. Beberapa penelitian telah dilakukan terus menerus pada bahan konvensional yang asli dengan bahan yang dimodifikasi resin. Pada umumnya hasil yang diperoleh tidak memuaskan khususnya pada kavitas aproksimal dimana semen relatif tidak mendukung. Karena kerapuhannya, glass-ionomer cement membutuhkan pendukung di sekeliling struktur gigi sehingga penampilannya lebih baik pada permukaan kavitas dengan permukaan tunggal dibandingkan dengan kavitas dengan berbagai permukaan.

 

  1. Teknik Atraumatic Restorative Treatment (ART)

Glass ionomer cement merupakan bahan pilihan pada teknik perawatan Atraumatic Restorative Treatment (ART). Beberapa percobaan klinis ART yang telah dipublikasikan menunjukkan bahwa rata-rata ketahanan GIC dapat dibandingkan dengan dental amalgam. Beberapa kesimpulan yang telah diambil dari banyak penelitian tentang ART termasuk pengaruh usia pasien, pengaruh operator, restorasi pada permukaan tunggal lebih baik daripada restorasi dengan berbagai permukaan,

terdapat nyeri dan ketidaknyamanan yang minimal, sering tidak membutuhkan anestesi, keefektifan biaya mirip dengan amalgam, dibutuhkan evaluasi teknik pada pasien dengan rampan karies.

  1. C.    Restorasi GIC kelas III untuk gigi sulung anterior

Pada dasarnya restorasi GIC kelas III untuk gigi sulung anterior sama dengan gigi tetap ada umunya. Namun harus diperhatikan bentuk morfologi struktur gigi sulung. Beberapa gigi sulung menunjukkan kemiripan dengan gigi permanen penggantinya. Beberapa perbedaan anatomi perlu diperhatikan sebelum melakukan restorasi, pertimbangan anatomi gigi sulung adalah sebagai berikut.

RESTORASI KLAS III

 

Lesi akibat karies terdapat pada permukaan proksimal pada gigi anterior sulung sering dijumpai di daerah kontak dan hal ini menunjukkan keadaan karies yang aktif. Anak dengan lesi tersebut memerlukan suatu tindakan pencegahan yang efektif. Bila setelah pembuangan jaringan karies tampak kedalaman karies belum mengenai dentin dan tidak melibatkan bagian insisal, maka dapat ditumpat dengan teknik restorasi klas III konvensional. Bahan tumpatan yang dipilih adalah bahan tumpatan sewarna dengan sistem ikatan.

 

            Restorasi kelas III GIC

Alat yang diperlukan: hand piece, bur (seperti bur diamond, stone bur, bur sikat dan rubber cup), pinset, ekskavator, burnisher, spatula, glass slab. Sedangkan bahannya adalah bahan restorasi GIC (Fuji IX)

Cara Preparasi Kavitas

  1. Tentukan batas garis luar kavitas
  2. Untuk mendapat akses ke dentin yang terkena karies. Jika gigi tetangga masih ada maka dilakukan dengan bur tungsten carbide atau bur intan dengan kecepatan tinggi melalui ridge tepi email dan aspek palatal (gambar 2).
  3. Dinding labial sebaiknya dipertahankan
  4. Perluasan dinding email dipermukaan palatal ke arah palatal, insisal maupun gingival dilakukan dengan bur bulat kecil.
  5. Retensi (groove stabilisasi) dibuat dengan bur bulat kecil ke arah gingival dan insisal
  6. Kavitas siap untuk ditumpat (gambar 3).

restorasi GIC pada gigi sulung anterior

Gabr 2. Akses lesi melalui palatal       Gambar 3. Kavitas siap ditumpat

 

 

Gambar 4. Preparasi kelas III

Cara Pengisian Kavitas

Pengisian Glass Ionomer Cement (GIC)

  1. Kavitas dibersihkan dengan menggunakan dentin kondisioner selama 30 detik, kemudian dicuci dengan air dan dikeringkan dan semprotan udara (tidak boleh terlalu kering
  2. Sisipkan celluloid strip diantara gigi.
  3. Campur GIC (Fuji IX) sesuai dengan petunjuk pabrik (harus selesai dalam waktu 30 detik).
  4. Letakkan GIC pada kavitas dengan plastis instrument yang datar, perhatikan jangan sampai ada bagian yang kurang.
  5. Lingkari celluloid strip pada gigi dan tahan di tempatnya. Buang kelebihan GIC yang keluar, strip ditahan sampai GIC mengeras.
  6. Varnish sesegera mungkin, pembuangan GIC yang berlebihan dilakukan dengan stone bur.
  7. Varnish tumpatannya.

 

Pemolesan Glass Ionomer Cement (GIC)

Pada kunjungan berikutnya penghalusan akhir bisa dilakukan dengan menggunakan bur batu putih (white stone), bur tungsten carbide dan karet abrasif dengan kecepatan rendah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

 

Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya dapat diambil beberapa kesimpulan, diantaranya adalah :

  1. Pada dasarnya penanganan karies kelas III klasifikasi G. V Black pada gigi sulung sama dengan pada gigi permanen, namun ada perbedaan-perbedaan antara keduanya yang harus jadi pertimbangan
  2. GIC adalah salah satu bahan tumpatan untuk gigi anterior yang dapat digunakan untuk gigi anterior sulung maupun permanen. Hal tersebut dikarenakan GIC memiliki beberapa keunggulan dibanding dengan bahan tumpatan lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

  1. Baum l. Buku ajar ilmu konservasi gigi. Ed. 3. Jakarta : EGC. 1997
  2. Van beek. Morfologi gigi, penuntun bergambar. Ed. 2. Jakarta : EGC. 1996
  3. Aswal D. Penuntun praktikum operatif dentistry. Medan : USU Press. 2011
  4. Batubara F. klasifikasi dan evaluasi klinis GIC. Medan : USU Press.2011
  5. Dalimunthe F. pertimbangan yang mendasari segi estetik estetik pada tumpatan komposit gigi anterior. Medan : USU Press. 2002

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Sharing Kasus Perawatan Konservasi Gigi

Conservative Dentistry Case Reports Presentation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: